A-4 Skyhawk Indonesia Blog Sejarah Perang Dunia


Dua pesawat A-4 TNI AU sedang melaksanakan terbang patroli rutin. Jika diperhatikan warna cat dan logo TNI AU merupakan colour scheme model low visibility. Warna itu sengaja disamarkan agar tidak cepat terdeteksi oleh musuh. Warna low visibility juga tetap dipakai pada salah satu A-4 yang akan di grounded.

Sebelum bergabung dengan TNI AU, pesawat tempur A-4 Skyhawk telah membuktikan kemampuannya sebagai jet tempur yang tangguh. Jet tempur yang diproduksi oleh McDonnell Douglas pada tahun 1962 itu awalnya dioperasikan oleh AL AS dan Marinir AS. Selama dioperasikan oleh militer AS misi tempur yang pernah dijalani oleh A-4 Skyhawk adalah dalam Perang Vietnam (1955-1975). Sebagai pesawat pengebom ringan yang dioperasikan dalam Perang Vietnam mulai tahun 1965, Sky-hawk bertempur bersama pesawat supersonik yang dioperasikan oleh AU AS, F-105 Thunderchief Operasional Skyhawk di Vietnam berlangsung hingga tahun 1970 dan selama dioperasikan di medan tempur, Skyhawk terus dikembangkan hingga ke varian A-4 M Skyhawk II.

Selain dioperasikan olehAL AS dan Marinir, Skyhawk juga dioperasikan oleh sejumlah negara di luar AS seperti Argentina, Australia, Israel, Uni Emirat Arab (Kuwait), Malaysia, Selandia Baru, dan Indonesia. Kehadiran Skyhawk di negara-negara yang kemudian terlibat dalam konflik militer menjadi semacam ajang bukti kemampuan tempur Skyhawk di medan laga. Ketika dioperasikan oleh Israel, Skyhawk dengan varian A-4 E, A-4 H, dan TA-4H menunjukkan kelebihan sekaligus kelemahannya. Dalam Perang Yom Kippur yang berlangsung pada bulan Oktober 1973, Israel kehilangan Skyhawk sebanyak 51 unit. Semua Skyhawk yang rontok diakibatkan tembakan rudal darat ke udara SAM milik pasukan Mesir dan Suriah. Rupanya kekalahan telak yang dialami Mesir dan Suriah pada Perang Enam Hari melawan Israel pada tahun 1967 telah memberi pelajaran berharga. Untuk mengantisipasi serangan udara Israel, baik Mesir maupun Suriah sudah mempersiapkan diri dengan membeli ribuan rudal SAM dari Rusia.

Akibat rontoknya 51 Skyhawk Israel akibat rudal musuh -7.embuat negara pemasoknya,terperangah. Tapi AS segera bertindak cepat dan kemudian engirim Skyhawk pengganti yang semula merupakan stok bagi 1 AS. Skyhawk pengganti yang dikirim oleh AS itu adalah A-4 E/F. Skyhawk dalam versi lebih canggih diharapkan sanggup melawan rudal-rudal SAM musuh. Kemampan A-4 E/F di medan laga meang terbukti kendati mendapat serangan rudal dari darat tak ada satu pun A-4E/F yang berhasil ditembak jatuh. Setelah perang Israel terus meng- upgrade Sky-hawk yang masih dimiliki sehingga kemampuan tempurnya makin meningkat. Operasional Skyhawk oleh AU Israel berlangsung hingga Oktober 2008.

Kehebatan Skyhawk sebagai mesin perang juga dialami oleh Angkatan Udara Argentina ketika berperang melawan Inggris dalam Perang Falkland (1982). Meskipun Skyhawk yang dioperasikan oleh AU Argentina merupakan tipe awal A-4 B mereka berhasil menenggelamkan sejumlah kapal perang Inggris seperti HMS Coventry (D118) dan fregat HMS Antelope (F170). Sementara kapal-kapal perang Inggris yang mengalami kerusakan berat akibat gempuran Skyhawk adalah RFA Sir Galahad (L3005), HMS Glasgow (D88), fregat HMS Argonaut (F56), fregat I-IMS Broadsword (F88), dan lainnya. Berkat keberhasilan Skyhawk itu Argentina bahkan berani mengklaim telah memenangkan Perang Falkland.

Skyhawk Indonesia

Sejarah datangnya Skyhawk ke Indonesia dan kemudian dioperasikan oleh TNI AU merupakan proses pembelian pesawat ternpur yang penuh rahasia karena berkaitan dengan Israel. Secara teknis Indonesia membeli A-4 dari AS tapi barangnya berada di Israel. Lewat Operasi Alpha yang digelar pada Juni 1979 dan terwadahi dalam paket program Elang Siaga-II/79 keinginan TNI AU untuk memiliki Skyhawk pun mulai diupayakan. Pada bulan Mei 1980 sebanyak 31 unit A-4E (single seater) dan dua unit pesawat TA-4 H/ dual seater mulai dikirim dari Israel menuju Indonesia menggunakan kapal laut. Pengiriman yang dilaksanakan secara sangat rahasia itu berlangsung selama 21 bulan dan berakhir pada 31 Agustus 1982.

Kekuatan Skyhawk TNI AU kemudian terbagi ke dalam duaskadron, yakni Skadron Udara 11 Iswahyudi, Madiun, dan Skadron 12 Pekanbaru, Riau. Sesuai programnya TNI AU sebenarnya tidak hanya ingin memiliki dua skadron Skyhawk dan berencana menambah 16 unit Skyhawk lagi. Tapi keinginan TNI AU untuk menambah tipe dual seater itu gagal karena Israel tak mau melepasnya. Namun pada tahun 1998 TNI AU berhasil menambah dua Skyhawk tipe TA-4J yang merupakan ex AL AS.

Sesuai dengan program Operasi Alpha, TNI AU sebenarnya hanya akan mengoperasikan Skyhawk selama 10 tahun saja. Tapi berkat keandalan Skyhawk di medan tempur dan perawatannya yang cukup sederhana, semua Skyhawk TNI AU kemudian dioperasikan hingga 24 tahun. Proses upgrade Skyhawk pun dilakukan agar usia operasionalnya mencapai 24 tahun. Proses upgrade dengan mendatangkan ahli dari Israel itu antara lain menambah perangkat TANS Computer, WDNS, ADF-60 serta radio VHF agar frekuensi sesuai dengan navcom yang dioperasikan oleh TNI pada saat itu. Setelah dipensiunkan, Skyhawk TNI AU yang antara lain pernah diterjunkan dalam operasi militer di Timor Timur kemudian digantikan oleh Sukhoi Su-27/30.

Profit A-4 Skyhawk

Ketika pada tahun 1952 AL AS berniat mengganti pesawat tempur A-1 Skyraider US Army Air Force yang telah memasuki usia pensiun, peluang itu langsung ditanggapi oleh perancang pesawat tempur McDonnell Douglas, Ed Heinemann. Perancang pesawat tempur ini telah berkarya sejak PD II. Salah satu rancangannya yang kelak menjadi pesawat tempur legendaris adalah Dauntless Dive Bomber. Untuk pengganti Skyraider, Heinemann mengajukan rancangannya, A-4 Skyhawk kepada US Navy. Tawaran Heinemann yang sudah lama menjadi perancang langganan US Navy itu langsung diterima. Pada 22 Juni 1954 prototipe A-4 sukses diterbangkan di Edward Air Force Base, California. Setelah menjalani tes terbang, A-4 pun mulai dikirim ke skadron AL AS (VA-72) dan Marinir(VMA-224).

Teknologi A-4

Sebagai pesawat yang dirancang untuk AL AS dan berpangkalan di kapal induk, A-4 merupakan pesawat tempur ringan tapi memiliki kemampuan yang optimal. Untuk memenuhi kriteria light fighter A-4 hanya menggunakan satu mesin turbojet Pratt & Whitney J52-P8A, bersayap delta sepanjang 8,38 m sehingga mampu menambah perfoma kecepatan terbang. Sky-hawk memiliki postur ramping dengan bobot 50% lebih ringan dibandingkan pesawat-pesawat AL AS terdahulu (Skyraider), mampu membawa amunisi ban-yak karena A-4 sanggup mengangkut beban hampir seberat bobot pesawatnya. Dalam kondisi berat kosong (empty weight) berat A-4 sebanyak 10.450 lb (4.750 kg) sedangkan dalam kondisi membawa beban maksimal (loaded weight) berat A-4 sebanyak 18.300 lb (8. 318 kg).

Seorang pilot TNI AU sedang menuruni tangga setelah keluar dari kokpit A-4. Pilon-pilon persenjataan yang kosong menunjukkan bahwa A-4 baru dioperasikan untuk terbang latihan. Program latihan teratur penting bagi kesiagaan tempur A-4

Dengan bobot yang cukup ringan dan mampu mengangkut bahan bakar dan persenjataan dalam jumlah besar pada saat itu bagi AL AS, A-4 benar-benar merupakan pesawat tempur yang andal. Bobot lebih ringan itu bisa terpenuhi karena A-4 tidak menggunakan baterai sehingga sering mendapat julukan scooter, vespa produk Piaggio yang juga dikenal sebagai sepeda motor yang tidak menggunakan baterai. Sejumlah persenjataan yang dimiliki oleh A-4 antara lain, dua Colt Mk 12 kanon kaliber 20 mm, lima pod atau stasiun bom (dua pod di masing-masing sayap dan satu pod di bawah fuselage), 4 tabung peluncur roket LAU-10 rocket pods yang berisi roket Mk 32 Zuni kaliber 127 mm, 4 rudal udara ke udara AIM-9 Sidewinder, rudal udara ke permukaan masingmasing 2 AGM-12 Bullpup, 2 rudal antiradiasi AGM-45 Shrike, 2 AGM-62 Walleye TV-guided glide bomb, dan 2 AGM-65 Maverick.

Sejumlah bom menjadi persenjataan andalan A-4 antara lain 6 buah born Rockeye-II Mark 20 Cluster Bomb Unit (CBU), 6 Rockeye Mark 7/APAM-59 CBU, dan unguided born Mark 80. Selain membawa born-born konvensional, A-4 juga bisa mengangkut born nuklir B57 dan B61. Sedangkan untuk misi tempur jarak jauh, A-4 yang sudah dilengkapi peralatan air refueling itu bisa membawa bahan bakar sebanyak 3 x 370 US gallons (1.400 liter). Teknis air refueling tidak hanya dilakukan oleh pesawat tanker tapi juga bisa dilaksanakan proses air refueling sesama A-4 atau pesawat lain yang memiliki tipe yang sama dengan A-4. Di samping memiliki berbagai persenjataan yang sangat lengkap A-4 juga dilengkapi sistem avionik yang sangat mendukung kemampuan tempurnya. Sistem avionik yang dimiliki A-4 antara lain, radar penentu ketinggian Bendix AN/ APN-141 dan radar pemetaan serta deteksi jelajah Stewart Warner AN/APQ-145.

Modifikasi Israel dan Indonesia

Khusus untuk A-4 yang dimiliki oleh Israel, sejumlah modifikasi untuk meningkatkan kemampuan tempurnya telah dilakukan. Modifikasi yang dilaksanakan oleh Israel antara lain menambahkan perangkat pembawa born seperti outer wing rack, sistem pengereman double disc break, memanjangkan tail pipe sehingga bisa mengurangi panas buangan bahan bakar dan sulit dilacak oleh rudal pencari panas, mengganti sistem pengereman pesawat dengan parasut yang lebihandal (drug chute), memasang senjata berkemampuan lebih besar DEFA 552 GUN kaliber 30 mm, mengubah sistem air refueling probe, mengubah chaff dan dispenser roket, dan lainnya. Ketika dikirim ke Indonesia, A-4 yang didatangkan langsung dari Israel umumnya memiliki kualifikasi seperti itu.

Profil A-4 pada gambar atas merupakan A-4 TNI yang dicat dengan warna kamuflase yang sangat jelas. Logo TNI AU dan bendera merah putih berwarna cukup menyolok sehingga mudah dikenali identitasnya sebagai pesawat TNI AU. Warna kamuflase ini merupakan warna pertama yang digunakan sejak kedatangan A-4 pertama yang kemudian menghuni Skadron Udara 11 Lanud Iswahyudi, Madiun.

Tapi demi kelancaran operasi yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi di Indonesia, TNI AU masih melaksanakan modifikasi A-4 Israel. Modifikasi yang dilakukan antara lain mencakup pemasangan kamera pengintai VICON 70 Camera, radio komunikasi yang frekuensinya standar TNI ARC 182 (VHF-UHV-AM-FM, Doppler antena, TANS Computer, sistem pemandu senjata WDNS (Weapon Delivery Navigation Systems, pembidik senjata Ferranti Gun Sight, dan penambahan persenjataan Front Mounting Gun. Semua modifikasi yang dikerjakan oleh TNI AU terbukti berhasil sewaktu dilaksanakan uji coba baik saat pengeboman maupun penembakan sasaran (win).


Previous
Next Post »